prosa ( Hening )
Kira-kira bagaimana? Tentu lebih bahagia bukan?
Mengingat, banyak sekali kekurangan ku dalam merawat bunga yang seharusnya terus mekar di Setiap harinya. Dulu ketika kamu merasa jenuh, kamu selalu berusaha untuk tetap berada pada pilihan bertahan. Namun sayang, pilihan kita tak seirama. Pilihanku adalah meninggalkan.
Bagimu ketika rumahmu rusak yang kau lakukan adalah merenovasi bukan mengabaikan dan pergi mencari lagi, dan kau lakukan itu terus berulang. Sedangkan bagi ku sesuatu yang sudah rusak jika diperbaiki tetap tidak bisa semanis awal yang kita miliki. Ah, sudahlah tak ada yang perlu disesali hanya perlu dipelajari, Bahwa apa yang kita punya tak selamanya abadi. Lagipula kini kau sudah ada yang bersedia membantu merenovasi rumah yang dulu aku tinggalkan.
Seandainya dulu kita paksakan untuk tetap saling menggenggam, belum tentu senyum mu se memuai saat ini. Seperti yang kulihat kini dibalik tirai hujan yang membasahi tanah ditempat kita berteduh. Bahkan, kedua netra hitam pekat itu berseri melihat seseorang yang turun dari sedan putih dengan payung hitam ditangannya cukup menghangatkan bagimu ditengah derasnya hujan yang hadir.
Berbeda dalam sedikit hal kurasa tak masalah, namun berbeda dalam banyak hal rasanya sulit untuk tetap saling ber iringan. Karena pada waktunya kita hanya perlu berani dalam suatu pilihan, pilihan dalam menentukan arah yang seharusnya raga ini tuju. Aku bukan arahmu begitu pula sebaliknya.
Komentar
Posting Komentar